Showing posts with label Pemimpin. Show all posts
Showing posts with label Pemimpin. Show all posts

Pemimpin Itu Pelayan

Wednesday, 18 April 2012


REPUBLIKA.CO.ID,  Oleh: Prof KH Achmad Satori Ismail

Yahya bin Aktsam berkata, “Pada suatu malam aku menginap di rumah Amirulmukminin al-Makmun. Aku terbangun di tengah malam karena rasa haus yang sangat, maka aku pun bangkit (mencari air). Tiba-tiba Amirulmukminin berkata, “Wahai Yahya, apa gerangan yang terjadi?” Aku menjawab, “Demi Allah, aku sangat haus wahai Amirulmukminin.”

Lalu, Khalifah Makmun bangun seraya membawa seteko air untukku. Aku berkata, “Wahai Amirulmukminin, mengapa tidak kau suruh pembantu atau budak saja?” Beliau menjawab, “Tidak.” Karena bapakku meriwayatkan hadis dari bapaknya dan dari kakeknya dari Uqbah bin ‘Amir ia berkata, “Rasulullah SAW bersabda, ‘Pemimpin suatu kaum adalah pelayan mereka.’” (HR Ibnu Asakir, Abu Nu’aim).

Hadis tersebut di atas terdapat juga dalam kitab Al-Mawahib al-Laduniyah karangan al-Qastholani dan Syarah Az-Zarqani, juz 4, hlm 117-118. Kendati hadis ini lemah sanadnya, dikuatkan oleh beberapa hadis lain yang hampir serupa dan juga isinya tidak bertentangan dengan jiwa ajaran Islam yang memerintahkan kita untuk memberikan jasa sebanyak mungkin kepada manusia.

“Amalan yang paling dicintai Allah setelah yang fardu adalah memasukkan kegembiraan di hati Muslim.” (HR at-Thabrani dari Ibnu Abbas).

Ibnu al-Mubarok meriwayatkan dari Abi Syureih bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Di antara amalan yang paling dicintai Allah adalah memasukkan kegembiraan pada hati Muslim, melapangkan kesedihannya, membayar utangnya, atau memberi makan untuk menghilangkan rasa laparnya.” (Syu’abul Iman lil Baihaqi).

Sebaik-baik manusia adalah yang paling berjasa kepada orang lain. Uwais al-Qarni berkata, “Dalam perjalananku pernah melewati seorang pendeta, lalu aku bertanya, ‘Apakah derajat pertama yang harus dilewati seorang murid (pencari jalan tazkiyatunnafs)?’ Dia menjawab, ‘Mengembalikan semua hak orang dan meringankan punggung dari beban karena amalan seorang hamba tidak akan naik saat masih banyak hal-hal yang membebani dan menyusahkan orang lain. Tugas utama penguasa sebagai pelayan rakyat terfokus dalam dua hal, yaitu hirosatuddin dan siyasatuddunya (melindungi agama mereka dan mengatur urusan dunia.’” (Al-Ahkam as-Sulthoniyah, juz I, hlm 3).

Pelayanan bidang pertama berupa menjamin setiap warga negara agar memahami ajaran agamanya masing-masing, mampu mengamalkannya dengan baik, dan melindungi agama mereka dari berbagai bentuk kesesatan. Sedangkan, siyasatuddunya berupa pelayanan terhadap rakyat agar bisa hidup layak sebagai manusia yang bermartabat.

Tuntutan inilah yang mendorong Umar bin Khattab RA sering berkeliling malam hari untuk melihat kondisi rakyatnya. Saat ada yang mengeluh kekurangan pangan, ia menolongnya dan memanggul karung gandum sendiri.

Dalam kesempatan lain Umar pernah berkata, “Seandainya seekor keledai terperosok di Baghdad, niscaya Umar akan ditanya, mengapa tidak kau ratakan jalannya?”

Bila semua penguasa ataupun pemimpin di dunia menjadi pelayan rakyat atau anggotanya sebagaimana dicontohkan Rasulullah SAW, akan tegaklah keadilan dan umat manusia pun berada dalam kesejahteraan.

Sumber : Republika.co.id
Pic: aneahira.com

Pemimpin Bijaksana

Tuesday, 17 April 2012

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Prof Dr Yunahar Ilyas

Perang yang melelahkan itu sudah usai. Pasukan kecil mampu mengalahkan pasukan besar. Pasukan kafir dari Makkah yang dipimpin Abu Jahal kembali dengan kepala tertunduk dan penuh rasa malu, sementara kaum Muslimin kembali ke Madinah dengan penuh rasa syukur. Madinah menyambut mereka dengan gembira, kecuali Yahudi dan kaum musyrikin, termasuk orang-orang munafik, mereka sangat terpukul. Tadinya mereka berharap, Muhammad tewas dan pasukan Islam dihancurkan.

Kaum Muslimin pulang di samping membawa rampasan perang juga membawa lebih kurang 50 orang tawanan. Nabi Muhammad SAW belum memutuskan tawanan itu akan dibagaimanakan. Dalam keadaan seperti itu, Abu Bakar RA datang memberikan saran agar Nabi bermurah hati membebaskan tawanan dengan tebusan. Namun, Nabi diam dan tidak menjawab saran Abu Bakar.

Lalu, Umar datang menemui Nabi dan memberikan pendapatnya pula. Umar RA dengan tegas menyarankan agar semua tawanan dihukum mati karena mereka adalah musuh-musuh Allah. Mereka telah memerangi Nabi dan kaum Muslimin. Akan tetapi, Nabi pun tidak menjawab usulan Umar. Beliau masuk ke dalam kamarnya.

Kaum Muslimin terbelah dua. Sebagian mendukung pendapat Abu Bakar dan yang lain mendukung usulan Umar. Jika Nabi salah mengelola perbedaan pendapat yang tajam dari dua orang terdekat ini, tentu akan terjadi perpecahan.

Nabi kemudian keluar menemui kaum Muslimin untuk menyampaikan keputusannya. Mula-mula Nabi memuji Abu Bakar. “Ibarat malaikat, Abu Bakar itu seperti Mikail yang diturunkan Allah membawa sifat pemaaf kepada hamba-Nya. Kalau Nabi, Abu Bakar seperti Ibrahim yang berkata, ‘Barang siapa yang mengikutiku, maka sesungguhnya orang itu termasuk golonganku, dan barang siapa yang mendurhakai aku, maka sesungguhnya Engkau, Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.’” Kaum Muslimin yang mendukung pendapat Abu Bakar senang.

Kemudian, Nabi memuji Umar. “Ibarat malaikat, Umar itu seperti Jibril diturunkan membawa kemurkaan dari Tuhan dan bencana terhadap musuh-musuh. Kalau Nabi, Umar itu seperti Nuh yang mengatakan, ‘Ya Tuhanku, janganlah Engkau biarkan seorang pun di antara orang-orang kafir itu tinggal di atas bumi.’” Para pendukung pendapat Umar juga senang.
 

Abu Bakar dan Umar senang Nabi tidak menyalahkan pendapat mereka. Sahabat-sahabat lain juga senang, baik yang pro-Abu Bakar maupun Umar. Tetapi, tugas pemimpin tidak hanya membuat pengikutnya senang tanpa ada keputusan. Bagaimanapun Nabi harus memilih salah satu dari dua pendapat itu. Maka, Nabi memilih pendapat Abu Bakar walaupun kemudian pilihan itu ditegur oleh Allah SWT.
“Tidak patut bagi seorang Nabi mempunyai tawanan sebelum ia dapat melumpuhkan musuhnya di muka bumi. Kamu menghendaki harta benda duniawiyah, sedangkan Allah menghendaki (pahala) akhirat (untukmu). Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” 

Tatkala pendapatnya tidak dipilih Nabi, Umar rida. Dan tatkala pendapat Umar dibenarkan Allah, Umar tidak menepuk dada, apalagi sampai menyalahkan Nabi. Pemimpin yang bijaksana juga akan melahirkan umat yang bijaksana

Sumber: Republika.co.id
pic: inijalanku.com
 

Most Reading